Saturday, December 29, 2018

Perjalanan Menulis Artikel 2017-2018


Awal 2017, saya bimbang apakah harus menulis novel (lagi) atau berhenti dulu. Sebelum 2017, saya cukup produktif menulis novel, setahun kadang bisa jadi dua. Namun, tiap kali menulis novel saya harus meyakinkan diri sendiri di awal, bahwa novel itu haruslah selesai. Dan itu tak mudah. Menulis beratus-ratus halaman cerita sering kali menariknya cuma di awal dan di akhir.

Di awal, semua penulis saya kira merasa idenya unik, hebat, “baru”, atau bahkan fantastis. Menjelang bagian tengah, barulah pertanyaan itu muncul, “Apakah yang kutulis ini sesuatu yang benar-benar hebat?” Bila seseorang bisa melanjutkan ceritanya—di tengah deraan ketidakyakinan—barulah ia lega di akhir, sudah berhasil menyelesaikan sebuah cerita yang membutuhkan napas panjang.

Februari 2017, saya agak iseng membuat tulisan “Empat Manfaat Membaca Cerita Detektif”, saya publikasikan berseri di Facebook. Tak dinyana, tulisan itu disukai beberapa teman, dibagi-bagikan, lalu dimuat seorang kawan di sebuah situs web yang berisi berbagai informasi tentang novel dan film detektif (detectivestoryid.wordpress.com/2017/03/08/manfaat-membaca-cerita-detektif/). Dari situ, saya pun merasa, peluang untuk menulis tulisan pendek (opini atau esai) terbuka. Jadi, saya berterima kasih kepada Muhammad Fadli, teman dan pencinta kisah-kisah detektif, pengelola situs web itu, yang menyadarkan saya bahwa saya perlu mencoba (lagi) menulis artikel.

Akhir Februari 2017, waktu hendak menulis lebih banyak artikel, saya menetapkan suatu target: opini saya harus menembus harian Kompas di rubrik opini halaman 6 atau 7. Sebelumnya (tahun 2009 dan 2012), tulisan saya pernah dimuat Kompas, tapi bukan di rubrik opini. Beberapa orang menganggap target itu terlalu muluk karena persaingannya ketat, atau malah lucu karena Kompas tidak perlu (lagi) dianggap sebagai media terbaik.

Namun, bagi saya, target menulis bisa disamakan dengan tujuan wisata: Yang satu menganggap Tiongkok lebih bagus, lainnya menyukai Prancis. Begitu juga dengan media—silakan anggap tujuan atau target pribadi sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan.  Mau menulis di media cetak, online, weblog sendiri, atau catatan harian pun sumonggo. Alhasil, sepanjang 2017-2018, tiga opini saya dimuat rubrik opini di Kompas, dan satu artikel lainnya dimuat di Teroka (rubrik esai kebudayaan Kompas).  

Berikut beberapa artikel (esai dan opini) saya, juga cerpen, yang berhasil dimuat di beberapa media sepanjang 2017-2018:

2017:

1. Manfaat Kritik – Radar Surabaya – 26 Maret 2017
2. Film, Anak, dan Keluarga – Analisa – 30 Maret 2017
3. Pembunuhan di SMA Taruna dan Riwayat Dendam Kesumat – Detik – 5 April 2017
4. Pengarang dan Kesendiriannya – Radar Malang – 9 April 2017
5. Pengarang dan Panggung Politik – Radar Surabaya – 9 April 2017
6. Kepergian Rima (cerpen) – Media Indonesia – 16 April 2017
7. Pahlawan Bersertifikat dan Lagu di Dalam Bis – Detik – 2 Mei 2017
8. Menggagas Pendidikan yang Toleran – Lampung Post – 3 Mei 2017
9. Pendidikan, HAM, dan Sanksi bagi Siswa – Analisa – 6 Mei 2017
10. Masihkah Buku Menjadi Alternatif Hiburan? – Detik – 17 Mei 2017
11. Desa Tertinggal, Jalan, dan Pendidikan – Jurnal Ruang – 24 Mei 2017
12. Pri, Nonpri, vs Toleransi – Detik – 29 Mei 2017
13. Belajar Toleransi dari Rumah Sakit – Detik – 8 Juni 2017
14. Sejarah untuk Pembelajaran Nasionalisme dan Keberagaman – Jurnal Ruang – 14 Juni 2017
15. Dokumentasi sebagai Acuan Kritik Sastra – Jurnal Ruang – 26 Juli 2017
16. Kepergian Rima (cerpen) – Hidup – 30 Juli 2017 (Keterangan: Cerpen hampir sama dengan yang nomor 6. Ceritanya, setelah hampir dua bulan cerpen saya kirimkan ke Hidup tidak ada kabar, cerpen ini saya panjangkan, saya kirim ke Media Indonesia, dimuat. Belakangan, bulan Juli, cerpen ini juga dimuat di majalah Hidup.)
17. Keraton Kadariah dan Kawasan Merah – Pana Journal – 5 Agustus 2017
18. Menjadi Guru Inspiratif – Jurnal Ruang – 15 Agustus 2017
19. Biopik yang Datar dan Terlalu Penuh Kebaikan – Litera – 7 September 2017
20. Kerudung untuk Cucuku (cerpen) – Tribun Jabar – 17 September
21. Nostalgia: Jaminan Sukses Film Indonesia? – Analisa – 18 September 2017
22. Mengembalikan Kedudukan Sejarah sebagai Ilmu – Analisa – 4 Oktober 2017
23. Pendidikan Batin – Kompas – 13 November 2017
24. Pendidikan Politik Kebinekaan – Kompas – 24 November 2017
25. Koruptor, Plagiator, dan Pendidikan Karakter – Detik – 24 November 2017
26. Optimalisasi Belajar di Kelas – Analisa – 25 November 2017

2018:

27. Semua akan Belanja Online pada Waktunya – Analisa – 8 Januari 2018
28. Tas dan Kenangan (cerpen) – Hidup – 14 Januari 2018
29. Upaya Mengajarkan Rasa Malu – Beritagar – 14 Januari 2018
30. Kejujuran Siswa dan Pendidikan Karakter – Analisa – 3 Februari 2018
31. Upaya Mencegah Permusuhan – Kompas – 2 Mei 2018  
32. Mencintai Buku dari Keluarga – Beritagar – 5 Mei 2018
33. Napas Terakhir (cerpen) – Hidup – 3 Juni 2018
34. Guru dan Semangat Kepahlawanan – Media Indonesia – 12 November 2018
35. Anak dan Benih-benih Kebencian – Alinea – 19 November 2018
36. Guru dan Panggilan Hidup – Kompas – 24 November 2018
37. Guru dan Rapuhnya Semangat Kebangsaan – Koran Sindo – 24 November 2018
38. Guru dan Pembelajaran Investasi – Kontan – 26 November 2018
39. Guru, Gerakan Literasi, dan Integritas – Beritagar – 27 November 2018      
40. Mendidik yang Terlupakan – Media Indonesia – 3 Desember 2018
41. Hak Asasi Manusia, Bukan Sekadar Retorika – Alinea – 10 Desember 2018

Itulah tulisan-tulisan yang berhasil menembus meja redaksi berbagai media sepanjang 2017-2018. Tidak terlalu banyak, karena saya bukan penulis cepat. Sepanjang 2017-2018, saya paling banyak menulis dua artikel seminggu, kadang cuma satu artikel. Beberapa tulisan itu bisa Anda telusuri jejaknya menggunakan mesin pencari.

Beberapa catatan lain yang saya perlu sampaikan:

1. Pada pertengahan 2018 saya tidak menulis artikel selama beberapa bulan karena menggarap beberapa proyek ghostwriting (menulis untuk pihak lain).

2. Bagi saya, seorang penulis artikel perlu mendapatkan honor yang layak. Sejak pertengahan atau akhir 2017 saya berhenti mengirim tulisan ke media-media yang honornya seret atau perlu ditagih-tagih. Prinsip ini membuat saya beberapa kali dianggap penulis matre, tapi itu tak terlalu jadi soal. Menulis artikel adalah pekerjaan. Tiap artikel yang saya tulis tidak ada yang jadi sekali duduk. Kalaupun selesai, saya endapkan dulu selama beberapa jam, baru kemudian disunting dan disempurnakan lagi sebelum dikirimkan. Pernah ada satu artikel yang saya garap hampir seminggu. Untuk semua itulah saya merasa berhak mendapat honor sesuai yang telah dijanjikan.

3. Saya berterima kasih kepada teman-teman penulis yang kadang berbagi alamat e-mail media atau ide menulis yaitu Arie Saptaji, Slamat Sinambela, Riza Multazam Luthfy, Muazzah Muhammad, Sam Edy Yuswanto, Fajar S. Pramono, Yogyantoro, Marzuki Wardi, Supriadi, juga Anton Suparyanta.

4. Sampai saat ini, saya tidak tahu siapa redaktur atau editor di beberapa media seperti Kompas, Analisa, Koran Sindo, Kontan, atau lainnya yang meloloskan tulisan saya. Namun saya mengenal beberapa redaktur atau editor yang, tentunya, kepada mereka saya wajib mengucapkan terima kasih: Mumu Aloha (Detik), Radhar Panca Dahana (Kompas/Teroka), Tito Dirhantoro (Jurnal Ruang), Wa Ode Wulan Ratna (Jurnal Ruang), Yayan Sopyan (Beritagar), Purnama Ayu Rizky (Alinea), Hermawan Aksan (Tribun Jabar), Damhuri Muhammad (Media Indonesia – sastra/cerpen), dan Victor Yasadhana (Media Indonesia).

5. Terima kasih juga kepada rekan-rekan yang pernah belajar bersama saya untuk menulis artikel di kelas menulis online yang saya selenggarakan yaitu Bondan Satria Nusantara, Nurkholis Taufiq, Wandi Tambunan, Sherly Valent, Nataviana Anwar, Andreas Agus Budjianto, Khaerul Ummah, Erni Riyard, Dharma Mauliate Hutauruk, Mas Fah, Anggoro Utomo, Albertus Goentoer Tjahjadi, Brahmanto Anindito, Yustin Widoretno, Azri Zakkiyah, Fajaruddin Atsnan, dan Hanifatul Hijriati. Walaupun saya yang membuka kelas mengajarnya, bukan berarti atau melulu saya gurunya. Beberapa teman ada yang suka berbagi, memberikan ide-ide menulis artikel.

6. Beberapa tulisan saya di atas memenangi penghargaan. Saya anggap itu sebagai bonus. Pada Agustus 2017 saya  menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk opini yang berjudul “Film, Anak, dan Keluarga” dalam acara Apresiasi Pendidikan Keluarga. Pada 15-16 Agustus 2017 saya diundang menjadi pemakalah panel di Seminar Nasional Kritik Sastra yang dihelat Dewan Kesenian Jakarta bersama Kemdikbud karena tulisan saya yang berjudul “Dokumentasi sebagai Acuan Kritik Sastra” dinilai cukup baik untuk dipresentasikan. Pada Mei 2018, tulisan saya yang berjudul “Menggagas Pendidikan yang Toleran” masuk sebagai lima tulisan terbaik dalam Lomba Artikel dan Karya Jurnalistik Kemdikbud. Pada Oktober 2018, tulisan saya yang berjudul “Membangkitkan Antusiasme Belajar di Keluarga” (tidak ada dalam daftar di atas, dimuat di weblog) masuk dalam nominasi pemenang di kegiatan Apresiasi Pendidikan Keluarga yang dihelat Kemdikbud.

7. Bagi pembaca yang tertarik juga untuk menulis artikel, saya terbuka untuk belajar bersama. Pertanyaan tentang cara mengirim tulisan, alamat e-mail redaksi, dan hal-hal lainnya bisa dikirimkan ke sidiknugroho@yahoo.com.

8. 2019 adalah tahun yang masih menjadi misteri: apakah saya akan kembali menulis artikel-artikel seperti ini, mendapat proyek ghostwriting lainnya, atau kembali menulis novel kriminal-misteri. Yang jelas, tahun pasti berganti, dan saya masih belum memiliki resolusi. J

Selamat menyongsong Tahun Baru!

Monday, December 4, 2017

Komentar-komentar tentang Serikat Kegelapan

4 Oktober 2017-4 Desember 2017, dalam dua bulan, novel Serikat Kegelapan terjual 132 eksemplar. Masih ada 60-an eksemplar yang tersedia. Novel ini bercerita tentang tiga perampok bank, ditulis Sidik Nugroho.

Beberapa komentar pembaca dan media tentang novel ini:

"Dulunya aku sering nggak puas baca karya terjemahan atau penulis lokal. Tapi novel Serikat Kegelapan berbeda. Novel ini jalan cerita dan detailnya sudah jauh lebih keren daripada novel Mas Sidik lainnya yang dulu pernah kubaca. Anakku bertanya, berapa nilai yang kuberi untuk novel ini? Kujawab 80 dari 100, yang 20 untuk penulisnya agar menulis karya lain yang lebih baik lagi." (Sherly Valent, pembaca buku)

"Pembaca diajak merefleksikan kejadian yang terjadi dalam cerita ini (Serikat Kegelapan). Cerita ini sangat dekat dengan masyarakat karena mengangkat peristiwa nyata yang diolah melalui karya sastra. Sidik ingin menyebarkan semangat untuk menulis tema-tema yang tidak dilirik. Seperti tema kriminal ini." (Gusti Eka Firmanda, Pontianak Post)

"Semula saya agak merasa enggan membaca novel ini. Biasanya alur kisah seperti ini mudah ditebak. Namun, kejutan sesungguhnya justru baru ditemui pembaca ketika membaca Daftar Isi. Termasuk saya! Penulis memulai kisah dengan memberikan latar belakang kehidupan para perampok bank. Ternyata, selain tiga orang pelaku seperti yang disebutkan pada judul, ada pihak lain yang terkait dengan perampokan tersebut! Bukan sekedar kisah perampokan biasa. Cerdik juga!" (Truly Rudiono, pembaca dan pengulas buku)

"Membaca Serikat Kegelapan membuat kita tak hanya terhibur dengan rencana dan aksi yang penuh ketegangan, tapi juga menghayati nasib orang-orang kecil yang bingung mengambil tindakan ketika dihadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan. Cara mereka merencanakan penyamaran, pemantauan terhadap petugas penjaga bank, upaya mengetahui siapa pemegang brankas dan manajer bank, upaya menghindari pengejaran polisi, juga taktik agar perampokan berhasil dalam hitungan menit, direncanakan secermat-cermatnya. Dan yang membuat kisah perampokan ini masuk akal adalah karena latar Singkawang, kota yang tergolong kecil. Bukan Jakarta, misalnya." (Adi Alamsyah, pembaca buku)

***

Sinopsis:

Menjelang siang, sebuah bank dirampok. Pelakunya tiga orang yang memiliki latar belakang kehidupan yang pahit karena merasakan ketidakadilan: guru yang benci melihat pemimpin-pemimpinnya yang korup dan serakah, karyawan tambang yang menyaksikan pemimpinnya melenyapkan aktivis lingkungan hidup, dan pria yang anaknya menjadi korban pemerkosaan.

Sebelum merampok, tiga orang ini membuat perencanaan, bagaimana merampok uang semilyar rupiah dari bank yang mereka sasar sejak awal. Selesai merampok, dua polisi berupaya mencaritahu keberadaan mereka.

“Keadilan adalah omong kosong. Kalau kita berpikir bahwa pembalasan adalah hak Tuhan, biarlah tangan-Nya yang kuat membantu kita merampok sebanyak-banyaknya uang dari bank!”

***

Harga Rp62.500,00, belum termasuk ongkir.

Bagi yang tertarik menjual kembali (menjadi reseller), pembelian minimal tiga eksemplar; harga per eksemplar Rp50.000, belum termasuk ongkos kirim. Ada harga khusus untuk pembelian di atas tiga eksemplar.

Untuk pemesanan, silakan kontak WA 0895-2823-9689 (Gita).

***

Tebal buku: 232 halaman
Terbit: Oktober 2017
sidiknugroho.com || kopi-hitam.id

Monday, November 13, 2017

Sudah Terbit: The Death of the Black Crow

Sudah terbit, novel "Tewasnya Gagak Hitam" dalam versi bahasa Inggris, berjudul "The Death of the Black Crow". Novel ini diterjemahkan Slamat P. Sinambela dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Sedikit keterangan tentang judul novel, yaitu kata-kata "black crow". Kenapa harus ada tambahan kata "hitam" untuk "gagak" yang semua berwarna hitam? Karena "Gagak Hitam" dalam cerita ini adalah nama samaran penulis yang tewas gantung diri. Dan dalam versi Bahasa Inggris, penambahan "the" sebelum "black crow" untuk menegaskan bahwa "Gagak Hitam" bukan semata-mata burung gagak, tapi seseorang. Demikian, semoga bisa dipahami.

Selain itu, novel ini (versi Bahasa Indonesia-nya), mengantarkan penulisnya, Sidik Nugroho, lolos dalam seleksi-kurasi Ubud Writers and Readers Festival, sebuah festival sastra tahunan di Ubud, Bali.

Ini sinopsisnya dalam bahasa Inggris:

"Author Found Dead, Hanging in His Room", that was the headline of Black Crow’s mysterious death which made Elang Bayu Angkasa curious. He decided to go to Singkawang to investigate, together with Agung, a Singkawang policeman.

It wasn’t easy, but they began to find clues, which led to another murder. A doctor in Jakarta, Nina Sekarwati, was also found dead with the same M.O. This time, there was a terrifying message on her bedroom’s wall. A writer and a doctor––two cities, two deaths, two mysteries…

***

Data buku:

Author: Sidik Nugroho
ISBN: 978-602-03-7614-1
Price: Rp 99.000
Size: 11x18cm
Total Pages: 232 pages
Date Published: 13 Nov, 2017
Category: Fiction: Mystery and Thriller

***

Untuk pembelian bisa mengklik tautan ini.

Monday, October 2, 2017

Sudah Terbit: Serikat Kegelapan

Kabar gembira, sudah terbit, SERIKAT KEGELAPAN, kisah tentang tiga perampok bank oleh Sidik Nugroho, novel pertama yang diterbitkan penerbit Kopihitam.

***

Sinopsis:

Menjelang siang, sebuah bank dirampok. Pelakunya tiga orang yang memiliki latar belakang kehidupan yang pahit karena merasakan ketidakadilan: guru yang benci melihat pemimpin-pemimpinnya yang korup dan serakah, karyawan tambang yang menyaksikan pemimpinnya melenyapkan aktivis lingkungan hidup, dan pria yang anaknya menjadi korban pemerkosaan.

Sebelum merampok, tiga orang ini membuat perencanaan, bagaimana merampok uang semilyar rupiah dari bank yang mereka sasar sejak awal. Selesai merampok, dua polisi berupaya mencaritahu keberadaan mereka.

“Keadilan adalah omong kosong. Kalau kita berpikir bahwa pembalasan adalah hak Tuhan, biarlah tangan-Nya yang kuat membantu kita merampok sebanyak-banyaknya uang dari bank!”

***

Harga hari ini sampai 14 Oktober: Rp55.000,00. Harga setelah 14 Oktober: Rp62.500,00. Harga belum termasuk ongkir.

Bagi yang tertarik menjual kembali (menjadi reseller), pembelian minimal tiga eksemplar; harga per eksemplar Rp50.000, belum termasuk ongkos kirim. Ada harga khusus untuk pembelian di atas tiga eksemplar.

Untuk pemesanan, silakan kontak WA 0895-2823-9689 (Gita).


Friday, July 14, 2017

Tentang Layanan Ghostwriting

1. Apakah Ghostwriter Itu?

Selain menulis buku, saya cukup sering menulis berbagai artikel di media dan beberapa kali menjadi ghostwriter. Menulis artikel di media mungkin sudah lazim didengar, namun ghostwriter... apakah itu?
Ghostwriter kalau diterjemahkan secara sederhana adalah penulis bayangan yang melayani permintaan pihak lain (atau klien) untuk menulis. Pada umumnya, buku yang diminta klien adalah untuk kepentingan self branding. Buku untuk kepentingan self branding biasanya memuat perjalanan kehidupan seseorang, nilai-nilai yang ia pelajari, ilmu yang ia bagikan, atau perubahan yang terjadi dalam kehidupannya yang ia harapkan menjadi ilham bagi orang lain. Silakan menyimak beberapa contoh berikut:

·         Seorang dokter atau pekerja sosial yang menyembuhkan banyak orang atau melayani masyarakat dapat membuat kisah perjalanan karir dan pelayanannya sehingga menginspirasi orang lain berbuat kebaikan bagi sesama.
·         Seorang trainer atau motivator dapat membuat buku yang berisi perjalanan hidup, nilai-nilai yang berharga, juga hikmah meraih kesuksesan atau menggali potensi diri yang menginspirasi dan menggugah hidupnya serta orang-orang di sekitarnya, terutama orang-orang yang hadir dalam seminar atau kelas-kelasnya.
·         Seorang pengusaha dapat membuat buku yang berisi catatan perjuangan jatuh-bangunnya merintis usaha, mengembangkan usaha, hingga akhirnya usahanya memberi hasil dan menyejahterakan orang lain.
·         Seorang yang ingin tampil di panggung politik mungkin perlu merumuskan visi, misi, dan harapan yang hendak dicapainya, menyebarkannya kepada sebanyak mungkin orang. Karena ia mungkin sibuk berkonsolidasi, atau mobile ke sana kemari, ia dapat menggunakan jasa ghostwriter untuk menulis.
·         Dan masih banyak contoh lainnya.

Dari contoh-contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa tiap orang dapat menjadi sumber inspirasi, pelajaran, atau ilmu bagi orang lain melalui karya berupa buku. Namun, tidak semua orang yang disebut di atas, juga orang-orang lain, memiliki waktu atau kecakapan menulis buku. Oleh karena itulah jasa seorang ghostwriter (penulis bayangan) diperlukan.
Jadi, selain sebagai klien, orang yang kisah hidup atau pelajaran dari hidupnya nantinya ditulis menjadi buku disebut sebagai narasumber atau penulis. Ghostwriter menggarap penulisan buku hingga tuntas, dan namanya tidak dicantumkan. Agar lebih jelas, tugas ghostwriter akan dijabarkan dalam poin selanjutnya.

2. Tugas Ghostwriter

Dalam penulisan buku untuk kepentingan self branding, ghostwriter akan mewawancarai klien atau narasumber atau penulis. Di dalam wawancara, ghostwriter akan menggali berbagai informasi yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan penulisan buku. Penyelesaian suatu buku tergantung dari ketebalan buku yang disepakati. Biaya penulisan buku relatif, tergantung banyak hal seperti ketebalan buku, jumlah wawancara yang diadakan, dan sebagainya. (Untuk lebih jelas, tarif akan dijabarkan di poin ketiga.)
Ghostwriter tidak berperan dalam penerbitan buku. Ghostwriter bertugas menulis buku sampai selesai. Penerbitan buku sepenuhnya berada di tangan klien atau narasumber atau penulis. Perlu dicatat, tugas ghostwriter tidak hanya mengetik, namun sampai pada dua tahap berikutnya, yaitu menyunting (editing) dan menyempurnakan (proofing) naskah.
Namun demikian, ghostwriter dapat juga memberikan konsultasi seputar penerbitan buku bila diperlukan: dari mendesain sampul buku, me-layout halaman, mengurus ISBN, atau membantu mencarikan percetakan.
Saya, karena sudah berpengalaman menerbitkan buku di beberapa penerbit mayor (Andi, Gloria Graffa, Gramedia Pustaka Utama, dan Bhuana Ilmu Populer), juga bisa membantu klien atau penulis atau narasumber manakala ingin naskahnya diterbitkan di penerbit-penerbit itu. Namun, naskah yang diajukan ke penerbit-penerbit itu tidak selalu dinyatakan layak terbit karena layak atau tidak terbitnya sebuah naskah merupakan kebijakan internal tiap penerbitan.
Alternatif lain yang bisa ditempuh adalah menerbitkan secara mandiri atau menjalin kerjasama tertentu dengan beberapa penerbit yang membuka diri untuk membiayai penerbitan buku secara bersama-sama.
Menerbitkan dan mencetak buku secara mandiri (tidak bergantung pada penerbit mayor) juga bisa jauh lebih menguntungkan, terutama jika klien atau penulis atau narasumber sudah memiliki target pembeli atau pembaca buku yang jelas. Untuk lebih jelas, silakan simak contoh target pemasaran buku berikut:
                                                                                               
Klien/Penulis/Narasumber
Target Pembeli/Pembaca Buku
Pengajar (dosen atau guru)
murid atau mahasiswanya
Dokter
pasien yang sering berobat kepadanya
Trainer atau motivator
orang yang hadir dalam seminar atau kelasnya
                                               
3. Tarif Ghostwriter dan Nilai Buku

Soal tarif, saya menetapkan harga yang sangat fleksibel, mulai Rp70.000,00 (tujuh puluh ribu rupiah) hingga Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) per halaman. Halaman yang saya maksud adalah halaman ketik, bukan halaman buku. Untuk halaman ketik, standarnya adalah: kertas A4, huruf Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5, margin 3-3-3-3 cm. Halaman buku biasanya menggunakan kertas A5, bukan A4. Berdasarkan pengalaman menulis, jumlah halaman buku biasanya 1,5 (satu setengah) kali lebih banyak daripada jumlah halaman ketik. (Sebagai perumpamaan, naskah setebal 100 halaman ketik akan berubah menjadi 150-165 halaman buku.)
Pertanyaannya, mengapa jarak harga begitu besar, dari Rp70.000,00 hingga Rp500.000,00? Semoga dua gambaran berikut bisa membantu:
Pertama, seorang motivator meminta saya menulis buku tentang nilai-nilai kesuksesan yang diajarkannya. Untuk menulis, saya hanya perlu mendengarkannya berbicara di seminar-seminar yang ia selenggarakan. Rekaman seminarnya, ditambah beberapa hal lainnya yang ia anggap perlu, sudah bisa menjadi bahan menulis buku.
Kedua, seorang anak dari seorang pria yang sudah meninggal ingin menulis buku tentang ayahnya. Untuk menulisnya, saya diminta memahami sejarah keluarga besar, kiprah sang ayah, dan berbagai relasi sang ayah semasa ia hidup. Tentu, data-data demikian tidak mudah untuk ditelusuri dan dicari.
Semoga lewat dua gambaran di atas pembaca memahami, bahwa tingkat kesulitan penulisan sebuah buku sangatlah beragam.
Mungkin pembaca ada yang menganggap tarif itu mahal. Namun, kalau kita memahami nilai sebuah buku, anggapan itu bisa berubah. Dari pengalaman saya, setidaknya buku memiliki dua nilai penting, yaitu komersial dan artistik-historis.
Nilai komersial buku menjadi tinggi ketika terjual laris. Katakanlah, buku anda dicetak 3000 eksemplar, satu eksemplar harganya Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah). Dari situ, royalti yang anda terima (umumnya 10% dari harga jual) adalah 3000 x Rp5000,00 atau sama dengan Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah). Padahal, untuk buku yang dijual seharga Rp50.000,00 mungkin anda hanya perlu mengeluarkan uang sekitar Rp7.000.000,00 (tujuh juta rupiah) sampai Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk membayar ghostwriter. Belum lagi kalau buku itu dicetak ulang, royalti anda bisa makin besar, dan anda tidak punya kewajiban membayar biaya tambahan kepada ghostwriter.
Nilai artistik-historis buku muncul ketika buku menjadi dokumentasi atau referensi yang berharga, walaupun tak terjual laris. Buku itu bisa menjadi catatan atau pembelajaran penting yang dipelajari oleh orang-orang yang terhubung dengan anda seperti keluarga, rekan kerja, atau para sahabat.

4. Tambahan: Tidak Selalu Berbentuk Buku

Selain buku, saya pernah beberapa kali diminta beberapa pihak untuk menulis artikel. Prinsip kerjanya sama seperti ghostwriter, tapi klien hanya meminta saya menulis artikel yang panjangnya 800-1000 kata. Artikel itu dikirimkan ke media, atau dimuat di situs web yang sesuai konten artikel.
Berapakah tarifnya? Untuk artikel seperti ini, saya mematok harga dari Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) hingga Rp700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah), lagi-lagi tergantung tingkat kesulitannya. Dasar bagi pematokan harga ini adalah jumlah honor yang umumnya saya terima dari beberapa media yang pernah memuat tulisan saya.

5. Penutup

Demikian yang saya sampaikan. Terima kasih bila sudah menyimak sejauh ini. Anda tertarik membuat buku? Sebagai catatan kehidupan yang ingin anda bagikan untuk orang-orang di sekitar anda, bisa. Sebagai cara untuk membagi ilmu atau pengalaman, bisa. Atau sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan finansial karena anda sudah memiliki target pembeli, juga bisa.
Kalau ada hal-hal lain yang masih perlu ditanyakan atau ingin diobrolkan, silakan mengontak saya lewat e-mail sidiknugroho@yahoo.com atau nomor ponsel/Whatsapp 081.334.130.130.

Tuesday, January 17, 2017

Sudah Terbit: "Ninja dan Utusan Setan"

Sudah terbit, seri ketiga trilogi misteri-detektif dengan tokoh Elang Bayu Angkasa setelah Tewasnya Gagak Hitam (seri pertama) dan Neraka di Warung Kopi (seri kedua). Buku ini bisa didapatkan di toko-toko buku Gramedia di seluruh Indonesia dan toko-toko buku online dengan mesin pencarian. Berikut sinopsis Ninja dan Utusan Setan:

Satu mayat lenyap dari ruang jenazah rumah sakit. Elang Bayu Angkasa mendengar berita itu dari Tesha, kekasihnya yang bekerja di rumah sakit itu. Elang awalnya tak mau terlibat. Ia ingin hidup tenang, menikahi Tesha, dan berkeluarga. Tetapi ia menerima surat misterius berisi teka-teki yang berhubungan dengan mayat yang lenyap itu.

Tanpa sepengetahuan Tesha, Elang menyelidiki kasus itu bersama rekan-rekannya. Ia menyamar, berpenampilan lain, agar Tesha tak mengenalinya. Ia menghadapi berbagai teka-teki sekaligus teror saat hendak menguak misteri, dan... utusan setan yang muncul tak terduga.

Saturday, September 3, 2016

Menjadi Penulis Emerging di UWRF 2016


Puji syukur kepada Tuhan, saya lolos seleksi penulis yang diselenggarakan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun ini. Festival ini akan diselenggarakan pada 26-30 Oktober di Ubud, Bali.

Tahun ini seleksinya paling ketat, ada 894 penulis dari 201 kota di 33 provinsi Indonesia yang mengirimkan karya untuk diseleksi. Tingginya angka tersebut menahbiskan seleksi tahun ini sebagai yang terbanyak sepanjang sejarah seleksi, melesat jauh dari seleksi di tahun 2015 dengan 595 penulis dari 168 kota di 27 provinsi Indonesia. Tema festival tahun ini adalah "Tat Tvam Asi", sebuah penggalan filosofi Hindu dari abad ke-6. "Tat Tvam Asi" bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti "Aku adalah engkau, engkau adalah aku", atau bisa juga berarti "Kita semua satu".

Adapun nama-nama penulis emerging Indonesia tahun 2016 adalah Arung Wardhana Ellhafifie (Bangkalan), Dahlia Rasyad (Yogyakarta), Deasy Tirayoh (Kendari), Dimas Indiana Senja (Yogyakarta), Azri Zakkiyah (Malang), E. Rokajat Asura (Cilegon), Gemi Mohawk (Tangerang), Boni Candra (Padang), Joko Sucipto (Bangkalan), Joseph Rio Jovian Haminoto (Jakarta), Murizal Hamzah (Jakarta), Nersalya Renata (Jakarta), Ni Putu Rastiti (Denpasar), Royyan Julian (Pamekasan), Sidik Nugroho (Pontianak), dan Soetan Radjo Pamoentjak (Bukittinggi).

"Emerging" merupakan istilah yang digunakan UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas namun belum memperoleh publikasi yang memadai. "Seleksi kali ini membuktikan bahwa penulis baru tidak selalu masih mentah karyanya bahkan sebaliknya bisa membuat 'penulis mapan' terperangah, untuk menghindari kata minder. Ini juga membuktikan bahwa banyak penulis berkemampuan mumpuni yang tidak terdeteksi semata-mata hanya karena tidak mendapatkan forum yang setara dengan kualitas karyanya," kata Seno Gumira Ajidarma, salah satu anggota Tim Kurator yang menyeleksi karya tulis yang masuk.

Saya beruntung, baru tahun ini mengirimkan karya untuk diikutkan seleksi, dan langsung lolos. Dari beberapa orang saya pernah mendengar, ada yang mengirimkan lebih dari sekali, baru lolos. Di festival ini, nantinya saya akan tampil di dua acara. Pertama peluncuran buku dwi bahasa karya 16 penulis emerging Indonesia. Kedua Origin Stories, bersama penulis favorit saya, Eka Kurniawan. Selain itu, tentunya saya akan menghadiri acara-acara lainnya, menyerap sebanyak-banyaknya ilmu tentang dunia kreativitas dan tulis-menulis. (*)

Sumber tulisan: Ubud Writers and Readers Festival, Femina Online || Foto oleh Ahmad Shobirin, ditayangkan di Inspirasi.Co

Monday, July 25, 2016

Hari Ini, "Neraka di Warung Kopi" Terbit

Senin, 25 Juli, buku terbaru Sidik Nugroho terbit. Judulnya "Neraka di Warung Kopi". Buku ini merupakan sekuel (lanjutan) dari "Tewasya Gagak Hitam". Begini sinopsisnya:

Pemilik sebuah warung kopi dibunuh brutal, mayatnya ditemukan dalam keranjang yang biasanya digunakan pedagang di pasar untuk berjualan. Warung kopinya dirusak, porak-poranda. Judul berita di surat kabar pun muncul:

“Neraka di Warung Kopi”.

Penyelidikan terhadap kasus pembunuhan itu menggiring Elang dan Agung berurusan dengan kepemilikan tanah: ada tanah yang dirampas, dan perampasnya ternyata penjahat kenamaan. Saat misteri hampir tersibak, kejahatan lain menyusul, dua korban ditemukan tewas di pulau yang sunyi.

“Bagi beberapa orang, kematian adalah duka, perpisahan abadi. Tapi bagi orang-orang itu, kematian adalah bisnis.”


Saturday, February 6, 2016

Pojok Pengarang di Bukabuku.com

Bila pengunjung kesulitan mendapatkan buku-buku saya, bisa mengunjungi situs Bukabuku.com. Di kolom Pojok Pengarang ada info tentang saya. Cara pembelian buku di situ mudah, saya pernah mencoba. Lalu, konfirmasi pengambilan buku ke gudang, juga pengiriman ke pembeli, juga selalu di-update oleh admin-nya. Di situ juga ada diskonnya lho. Buku-buku saya yang diterbitkan Bhuana Ilmu Populer dan Gramedia Pustaka Utama semua masih masih bisa diperoleh di situs itu. Ini tautannya: Sidik Nugroho di Bukabuku.

Tuesday, January 5, 2016

Catatan Selasa

Mulai 5 Januari 2016, saya berencana menulis catatan-catatan kecil tentang tulis-menulis dan kreativitas. Seminggu satu catatan, dibagi tiap Selasa. Selain saya posting di halaman Facebook Sidik Nugroho, saya juga menyimpan catatan-catatan itu di blog ini. Silakan mampir.