Tuesday, January 17, 2017

Sudah Terbit: "Ninja dan Utusan Setan"

Sudah terbit, seri ketiga trilogi misteri-detektif dengan tokoh Elang Bayu Angkasa setelah Tewasnya Gagak Hitam (seri pertama) dan Neraka di Warung Kopi (seri kedua). Buku ini bisa didapatkan di toko-toko buku Gramedia di seluruh Indonesia dan toko-toko buku online dengan mesin pencarian. Berikut sinopsis Ninja dan Utusan Setan:

Satu mayat lenyap dari ruang jenazah rumah sakit. Elang Bayu Angkasa mendengar berita itu dari Tesha, kekasihnya yang bekerja di rumah sakit itu. Elang awalnya tak mau terlibat. Ia ingin hidup tenang, menikahi Tesha, dan berkeluarga. Tetapi ia menerima surat misterius berisi teka-teki yang berhubungan dengan mayat yang lenyap itu.

Tanpa sepengetahuan Tesha, Elang menyelidiki kasus itu bersama rekan-rekannya. Ia menyamar, berpenampilan lain, agar Tesha tak mengenalinya. Ia menghadapi berbagai teka-teki sekaligus teror saat hendak menguak misteri, dan... utusan setan yang muncul tak terduga.

Saturday, September 3, 2016

Menjadi Penulis Emerging di UWRF 2016


Puji syukur kepada Tuhan, saya lolos seleksi penulis yang diselenggarakan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun ini. Festival ini akan diselenggarakan pada 26-30 Oktober di Ubud, Bali.

Tahun ini seleksinya paling ketat, ada 894 penulis dari 201 kota di 33 provinsi Indonesia yang mengirimkan karya untuk diseleksi. Tingginya angka tersebut menahbiskan seleksi tahun ini sebagai yang terbanyak sepanjang sejarah seleksi, melesat jauh dari seleksi di tahun 2015 dengan 595 penulis dari 168 kota di 27 provinsi Indonesia. Tema festival tahun ini adalah "Tat Tvam Asi", sebuah penggalan filosofi Hindu dari abad ke-6. "Tat Tvam Asi" bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti "Aku adalah engkau, engkau adalah aku", atau bisa juga berarti "Kita semua satu".

Adapun nama-nama penulis emerging Indonesia tahun 2016 adalah Arung Wardhana Ellhafifie (Bangkalan), Dahlia Rasyad (Yogyakarta), Deasy Tirayoh (Kendari), Dimas Indiana Senja (Yogyakarta), Azri Zakkiyah (Malang), E. Rokajat Asura (Cilegon), Gemi Mohawk (Tangerang), Boni Candra (Padang), Joko Sucipto (Bangkalan), Joseph Rio Jovian Haminoto (Jakarta), Murizal Hamzah (Jakarta), Nersalya Renata (Jakarta), Ni Putu Rastiti (Denpasar), Royyan Julian (Pamekasan), Sidik Nugroho (Pontianak), dan Soetan Radjo Pamoentjak (Bukittinggi).

"Emerging" merupakan istilah yang digunakan UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas namun belum memperoleh publikasi yang memadai. "Seleksi kali ini membuktikan bahwa penulis baru tidak selalu masih mentah karyanya bahkan sebaliknya bisa membuat 'penulis mapan' terperangah, untuk menghindari kata minder. Ini juga membuktikan bahwa banyak penulis berkemampuan mumpuni yang tidak terdeteksi semata-mata hanya karena tidak mendapatkan forum yang setara dengan kualitas karyanya," kata Seno Gumira Ajidarma, salah satu anggota Tim Kurator yang menyeleksi karya tulis yang masuk.

Saya beruntung, baru tahun ini mengirimkan karya untuk diikutkan seleksi, dan langsung lolos. Dari beberapa orang saya pernah mendengar, ada yang mengirimkan lebih dari sekali, baru lolos. Di festival ini, nantinya saya akan tampil di dua acara. Pertama peluncuran buku dwi bahasa karya 16 penulis emerging Indonesia. Kedua Origin Stories, bersama penulis favorit saya, Eka Kurniawan. Selain itu, tentunya saya akan menghadiri acara-acara lainnya, menyerap sebanyak-banyaknya ilmu tentang dunia kreativitas dan tulis-menulis. (*)

Sumber tulisan: Ubud Writers and Readers Festival, Femina Online || Foto oleh Ahmad Shobirin, ditayangkan di Inspirasi.Co

Monday, July 25, 2016

Hari Ini, "Neraka di Warung Kopi" Terbit

Senin, 25 Juli, buku terbaru Sidik Nugroho terbit. Judulnya "Neraka di Warung Kopi". Buku ini merupakan sekuel (lanjutan) dari "Tewasya Gagak Hitam". Begini sinopsisnya:

Pemilik sebuah warung kopi dibunuh brutal, mayatnya ditemukan dalam keranjang yang biasanya digunakan pedagang di pasar untuk berjualan. Warung kopinya dirusak, porak-poranda. Judul berita di surat kabar pun muncul:

“Neraka di Warung Kopi”.

Penyelidikan terhadap kasus pembunuhan itu menggiring Elang dan Agung berurusan dengan kepemilikan tanah: ada tanah yang dirampas, dan perampasnya ternyata penjahat kenamaan. Saat misteri hampir tersibak, kejahatan lain menyusul, dua korban ditemukan tewas di pulau yang sunyi.

“Bagi beberapa orang, kematian adalah duka, perpisahan abadi. Tapi bagi orang-orang itu, kematian adalah bisnis.”


Saturday, February 6, 2016

Pojok Pengarang di Bukabuku.com

Bila pengunjung kesulitan mendapatkan buku-buku saya, bisa mengunjungi situs Bukabuku.com. Di kolom Pojok Pengarang ada info tentang saya. Cara pembelian buku di situ mudah, saya pernah mencoba. Lalu, konfirmasi pengambilan buku ke gudang, juga pengiriman ke pembeli, juga selalu di-update oleh admin-nya. Di situ juga ada diskonnya lho. Buku-buku saya yang diterbitkan Bhuana Ilmu Populer dan Gramedia Pustaka Utama semua masih masih bisa diperoleh di situs itu. Ini tautannya: Sidik Nugroho di Bukabuku.

Tuesday, January 5, 2016

Catatan Selasa

Mulai 5 Januari 2016, saya berencana menulis catatan-catatan kecil tentang tulis-menulis dan kreativitas. Seminggu satu catatan, dibagi tiap Selasa. Selain saya posting di halaman Facebook Sidik Nugroho, saya juga menyimpan catatan-catatan itu di blog ini. Silakan mampir.

Wednesday, December 16, 2015

Segera Terbit, "Tewasnya Gagak Hitam"


Kabar gembira! Januari 2016, novel terbaru saya berjudul "Tewasnya Gagak Hitam" akan beredar di Gramedia dan toko-toko buku lainnya. Di Gramedia Jabodetabek dan sekitarnya, novel ini bisa didapatkan pada tanggal 12 Januari 2016. Sementara itu, di toko-toko buku lain mungkin baru akan tersedia pada akhir Januari atau awal Februari 2016. Anda juga dapat memesan kepada saya langsung lewat akun Facebook ini: Sidik Nugroho.

Novel ini merupakan seri pertama dari trilogi misteri-detektif yang saya tulis. Begini sinopsis yang tercantum di sampul belakang:

"Pengarang Ditemukan Tewas Gantung Diri"---itulah judul berita di koran yang membuat Elang Bayu Angkasa, seorang pelukis, penasaran. Apalagi pengarang yang tinggal di Singkawang dan bernama samaran Gagak Hitam itu tidak meninggalkan jejak sama sekali, kematiannya misterius. Terpancing rasa ingin tahu, Elang pergi ke Singkawang, menyelidiki kematian itu.

Saat Elang baru saja menyelidiki misteri kematian Gagak Hitam bersama Agung, polisi di Singkawang, kematian lain menyusul. Seorang dokter bernama Nina Sekarwati ditemukan tewas gantung diri di Jakarta. Elang tercengang ketika mendengar di kamar dokter naas itu ada tulisan dari lipstik ditorehkan di dinding: "Merpati Putih menyusulmu".

Pengarang dan dokter---dua kota, dua kematian, dua misteri. Teka-teki apa yang tersembunyi?

***

Data buku:
Judul: Tewasnya Gagak Hitam
Tagline: Pengarang tewas gantung diri, pelukis berupaya menyingkap misteri
Penulis: Sidik Nugroho
Desain sampul: Wahyu Widodo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jenis: Fiksi, novel dewasa
Tebal: 245 halaman, 11 x 18 cm
Harga: Rp48.000,00 (Pulau Jawa)
Tahun terbit: 2016 (Januari)
Halaman Facebook novel ini: Tewasnya Gagak Hitam
Halaman Goodreads novel ini: Tewasnya Gagak Hitam

Tuesday, July 14, 2015

Resensi-resensi 'Melati dalam Kegelapan'

Novel Melati dalam Kegelapan sudah beredar di Gramedia sejak Oktober 2014 lalu. Ada beberapa tanggapan, komentar, juga resensi dari pembaca untuk novel tersebut. Berikut beberapa kutipan resensi atas novel tersebut:

"Kisah dan plot yang dibangun sejak lembar pertama hingga akhir sebenarnya menarik karena tanpa bertele-tele pembaca diajak masuk dalam keseruan pencarian Rokhim dan bagiamana Tony memecahkan teka-teki siapa sebenarnya jati diri Melati yang rohnya kerap menampakkan diri padanya."
-- Hernadi Tanzil, selengkapnya di sini.

"... novel ini tensi(nya) ... dibangun dengan baik. Pada awal novel, kita sudah dikejutkan dengan kenyataan yang membingungkan. Lalu, beragam teror pun dimulai. Itu adalah awal yang sangat to the point dan benar-benar langsung masuk ke cerita."
-- Antonius Wendy, selengkapnya di sini.

"Novel beraroma misteri dan detektif yang diwarnai intrik serta sederet kejadian menegangkan ini ... menarik. Mengisahkan perjalanan hidup Tony, pria lajang yang memiliki karier cemerlang namun di sisi lain tengah bimbang menentukan pasangan hidupnya."
-- Sam Edy Yuswanto, selengkapnya di sini.

"Novel ini berawal dari teori bagaimana seharusnya menjadi  pemimpin, kemudian menjadi kisah yang menegangkan, mengerikan sekaligus berbumbu romantis. Maka, tak ayal novel semi detektif-thriller–suspended, layak Anda baca. Karena tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi hikmah dan nilai-nilai kepemimpinan yang baik. Selamat membaca!"
-- Muhammad Rasyid Ridho, selengkapnya di sini.

Friday, September 5, 2014

Resensi-resensi 'Surga di Warung Kopi'

Novel Surga di Warung Kopi sudah beredar di Gramedia sejak Januari 2014 lalu. Ada beberapa tanggapan, komentar, juga resensi yang dibuat oleh pembaca untuk novel tersebut. Berikut beberapa kutipan resensi atas novel tersebut:

"Ada emosi-emosi yang bercampur aduk sepanjang membaca novel ini---terlebih emosi kesedihan yang sangat mendalam. 'Surga di Warung Kopi' berfokus pada sosok Iwan yang sedang berada di dunia antara kehidupan dan kematian yang 'berbasis' di warung kopi."
-- Iman Budi Santosa, Bandung, selengkapnya di sini.

"Novel ini menggabungkan latar waktu di masa lalu, masa sekarang, dan kehidupan setelah kematian, serta menggabungkan latar tempat di warung kopi, gereja, dan berbagai kota. Semua itu terangkai indah dalam balutan kalimat demi kalimat yang mengalir. Sebagaimana kehidupan, novel ini mengurai berbagai perihal kehidupan yang terkadang pelik dan memang tidak bisa ditebak."
-- Supriyadi, Yogya, resensi selengkapnya di sini.

"Sidik Nugroho dengan lembut menjalin kelindan cerita tentang kematian yang sering kita abaikan. Kita abai bahwa si mati pernah memberi hidup dan warna pada orang-orang di sekitarnya."
-- Rohyati Sofjan, Garut, resensi selengkapnya di sini.

"Cara tutur yang sangat simpel dengan alur linear membuat novel ini mudah dicerna. Enggak perlu banyak mikir, tidak perlu pakai interpretasi. Buat saya sendiri, novel ini jadi menarik karena menampilkan sisi lain kehidupan yang bagi banyak orang menjadi misteri. Yaitu gambaran seperti apa kiranya ketika kita berada di antara hidup dan mati."
-- Selengkapnya di sini.

"Bertemu dengan orang-orang yang sudah tiada, teringat pada kenangan-kenangan di masa lampau, dilanjutkan dengan perpisahan yang mengharukan, adalah konsep awal keseluruhan novel ini. Meski terdengar aneh, konsep ini terasa sangat unik."
-- Antonius Wendy, Pontianak, selengkapnya di sini.

Ada juga catatan yang dibuat oleh seorang pria bernama Richard Boughton, penderita multiple sclerosis yang tinggal di Bali, setelah membaca novel ini:

"My friend, Mike, didn't make it. I wonder why. As it happens, I was just finishing the last chapter of a book I've been reading. Surga di Warung Kopi (Heaven in the coffee café). Appropriate, no? I enjoyed the book, and even wrote to the author upon finishing. Coffee always gives me a good feeling. So does heaven."
-- Selengkapnya di sini.

Saturday, August 30, 2014

Segera Terbit: Novel 'Melati dalam Kegelapan'


Kabar gembira! Novel terbaru saya, Melati dalam Kegelapan, akan terbit 6 Oktober 2014. Ini sinopsis yang dicantumkan di sampul belakang:

Karier Tony bagus, ia berhasil membeli sebuah rumah. Orangtuanya ingin ia segera menikah. Tony sudah punya calon istri, namun tak yakin pernikahan akan membuatnya bahagia.

Dalam kebimbangannya, Tony malah mengalami hal-hal mengerikan. Ia dihantui seorang gadis yang tewas dibunuh pacarnya. Lalu, suatu ketika, di kamarnya ia menemukan kepala anjing yang dipenggal dan dimasukkan ke kardus. Di dinding tertoreh tulisan "UTANGMU ADALAH UTANG DARAH!" dengan darah anjing itu.

Siapakah gadis yang menghantuinya? Mengapa tiba-tiba Tony diteror? Apakah Tony memutuskan akan menikah?


Mau mengikuti perkembangan berita tentang novel tersebut? Silakan bergabung di halaman ini: Melati dalam Kegelapan.

Sunday, January 19, 2014

Sudah Terbit: Novel 'Surga di Warung Kopi'

Kabar gembira. Novel saya terbit. Novel ini lahir karena kesukaan saya nongkrong di warung kopi. Sebagian besar naskahnya saya tulis di beberapa warung kopi di Kota Pontianak. Ini novel pertama saya yang diterbitkan oleh penerbit mayor (Bhuana Ilmu Populer).

SINOPSIS di sampul belakang buku:

Urip mung mampir ngombe, hidup cuma mampir minum. Hidup cuma mampir ngopi.

Di warung kopi, semua orang datang dan pergi. Di warung kopi, orang bisa tampak menjadi lebih lega, santai, dan gembira. Di warung kopi, tidak sedikit manusia yang menciptakan surga kecil barang sesaat untuk dirinya.

Lewat sebuah kejadian tak terduga, suatu ketika Iwan berada dalam dunia antara hidup dan mati. Ia bertemu dengan pacar, kawan-kawan, dan ayahnya yang telah tiada. Pertemuan-pertemuan itu terjadi di warung kopi—kenangan demi kenangan pun bermunculan. Kenangan-kenangan itu melahirkan kebahagiaan—mendatangkan surga di hati Iwan.

Memento mori, semua manusia pasti mati. Semua manusia akan menuju liang lahat, lalu pindah ke alam lain.

Detail buku:

Judul: Surga di Warung Kopi
Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Denis Agung
Desainer sampul dan tata letak: Helen Lie 

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Genre: Fiksi/Novel
Tebal buku: x + 143 halaman  

Ukuran: 13 x 19 cm 
Kertas: bookpaper 
Harga (di Pulau Jawa): Rp28.000
ISBN: 978602249805